catatan Catatan Kaki Tips

Tips Nyaman Naik Kereta Api Bersama Balita

Bepergian bersama anak yang masih kecil itu bukanlah suatu persoalan yang mudah, apalagi jika anak kita terhitung cukup aktif, termasuk untuk kami yang memang bukan keluarga yang sering plesiran.

Kami lebih banyak ndekem dalam rumah, tapi jika ada kesempatan, waktu, dana atau kami disuruh pulang segera kekampung halaman, ya kami lakukan.

Alhamdullilah, bulan february 2018 lalu kami pulang ke kampung halaman pak suami di Bali, untuk menuju kesana biasanya kami tempuh dengan Bis atau Kereta Api, dengan waktu perjalanan sekitar 6 jam.

Kok gak naik pesawat ?

Alasan utama kami tidak memilih pesawat adalah karena, jarak dari bandara ke rumah pak suami sangat jauh, bisa memakan waktu 3 jam jika tidak macet, berbeda dengan bis dan kereta api, walaupun lebih lama di perjalanan namun seperti bis misalnya, bisa langsung turun di depan rumah.

Bis vs Kereta Api

Bis dan kereta api ini mempunyai kekurangan dan kelebihan masing masing, kalau memilih naik bis maka kami hanya cukup duduk manis saja di dalam, tidak perlu mengangkat kopor ketika naik feri dan selalu tersedia konsumsi / makan malam tanpa mengeluarkan biaya ekstra, biasanya bis akan berhenti di salah satu rumah makan, sehingga tidak banyak tenaga yang dikeluarkan untuk angkut-angkut tas ataupun mbontot makanan dari rumah

Sedangkan kereta api, untuk makan siang / sarapan, penumpang harus mengeluarkan biaya lagi atau jika ingin berhemat bisa juga membawa bekal sendiri dari rumah, ketika tiba di stasiun akhir Banyuwangi Baru, maka kami akan membawa serta turun tas dan berjalan kaki / naik becak dari stasiun ke Pelabuhan Ketapang, cukup banyak mengeluarkan tenaga, apalagi jika harus berhimpitan dengan kendaraan dan para penumpang lain.

Walaupun begitu kedua alat tranportasi tersebut mempunyai sensasi pengalaman perjalanan yang berbeda, menyenangkan dan cukup melelahkan.

Kereta Api Mutiara Timur Siang                    

Nah karena kami sepakat memutuskan naik kereta Api maka kami mempersiapkan segala hal sesimple dan semurah mungkin.

Simple adalah barang bawaan kami tidak banyak, cukup hanya dengan tas ransel saja, semurah mungkin adalah kami menekan biaya membeli makanan di dalam kereta, semua bekal termasuk jajanan kami bawa dari rumah.

Bekal nasi dari rumah

Jadi bawaan kami adalah :

  1. Tas ransel pak suami yang berisi laptop dan beberapa pakaian.
  2. Tas ransel saya yang berisi beberapa pakaian dan juga keperluan Emil
  3. Tas jinjing berisi makanan dan minuman ( wadah nasi lauk + serbet + sendok + tisue basah )

Karena Emil turut serta, maka pembagian tugasnya adalah, pak suami membawa ransel dan menggendong Emil sedangkan saya membawa ransel dan menenteng tas makanan.

Untuk makanan seperti lauk pauk, saya sarankan untuk membawa yang tidak berkuah, agar tidak bocor atau tumpah dalam tas.

Baca juga : Berkunjung ke Bali Utara

Tiket Untuk Anak

Kalau tidak salah ingat tiket kami beli seminggu sebelum keberangkatan, untuk bayi di bawah 2 tahun tiket gratis sedangkan di atas itu anak dikenakan biaya, saya lupa setengah harga atau full, seingat saya sih full, karena Emil sudah mendapat tiket sendiri – koreksi saya jika salah.

Kami memilih berangkat menggunakan Kereta Api Mutiara Timur Siang kelas bisnis, berangkat dari stasiun sidoarjo sekitar pukul 9 pagi.

Kereta api ini sangat tepat waktu, jadi sebaiknya tiba di stasiun lebih awal, tapi jangan terlalu awal juga karena dikhawatirkan si anak akan bosan menunggu.

Oh ya jangan lupa bawa kartu tanda pengenal dan fotocopy KK ( kartu keluarga )

Bisnis vs Eksekutif

Pertama kali memilih kelas eksekutif ketika Emil usainya belum genap 2 tahun, lalu ketika usia Emil menginjak 2 tahun kami coba memilih kelas bisnis.

Dari harga, kedua kelas ini sudah berbeda, namun dari segi kursi, kelas Eksekutif bangkunya satuan  dan berlengan ( seperti bangku pesawat ), bisa direbahkan, tersedia bantal juga pijakan kaki dan jarak antar bangku depan lebih lega, karena bangku berlengan membuat sepanjang perjalanan Emil selalu tidur dipangku, tidak bisa rebah di atas kursi.

Kursi kelas Bisnis , kursi ini bisa dibalik, cukup putar bagian punggungannya

Namun setelah saya mencoba kelas lainnya, saya rasa jika membawa balita lebih nyaman memilih kelas bisnis walaupun tidak tersedia bantal, bangku tidak bisa direbahkan dan jarak antar kursi depan tidak begitu lega, namun kursi penumpang rata, tanpa lengan sehingga cukup lega jika anak tertidur di atas kursi, selain itu bangku depan bisa diputar saling berhadapan

Baca juga : Naik Kereta Api Eksekutif

Secara keseluruhan gerbong K.A Mutiara Timur Siang cukup bersih, aman dan nyaman, setiap gerbong juga tersedia pendingin udara dan bebas asap rokok, Lokasi toilet dengan tempat duduk penumpang menurut saya cukup aman dari aroma khas toilet yang mengganggu, karena dipisahkan dengan pintu gerbong yang selalu tertutup.

Kegiatan Bersama Anak di Dalam Kereta Api

Ketika di luar rumah atau bepergian, saya selalu menghindari gadget sebagai ‘senjata’ pengalih perhatian anak agar diam, sehingga mainan dan buku kesukaan menjadi barang wajib dibawa ketika bepergian, sebagai pengalih perhatian ketika anak bosan dalam perjalanan.

Walaupun seringnya mainan tersebut tidak banyak dikeluarkan, karena Emil lebih tertarik lingkungan sekitar.

Nah karena Emil ( 2,5 th ) lebih tertarik lingkungan sekitar dan cenderung aktif, maka kegiatan spontan yang kami lakukan agar Emil tidak bosan dan rewel dalam kereta adalah

  1. Makan camilan
  2. Bermain tebak nama benda.
  3. Tebak huruf dan angka
  4. Bernyanyi
  5. Bermain tebak bentuk, dengan jari atau benda sekitar
  6. Berjalan-jalan di gerbong
  7. Membiarkan dengan tetap mengawasi gerak gerik anak jangan sampai mengganggu ketenangan , untuk hal ini Emil sempat ‘bersilahturahmi’ ke beberapa bangku penumpang lain untungnya penumpangnya ramah sehingga Emil cukup nyaman duduk sementara bersama penumpang tersebut.

Capek ? tentu saja, bibir dan badan semua gerak demi meladeni Emil yang sungguh tanpa jeda, oleh karenanya kami gantian beristirahat, saya merem si paksu meladeni si bocah, begitu saja terus, jika bocah terlihat lelah saya tawarin makanan / camilan, biasanya setelah itu ia tertidur.

Memberikan Informasi Sederhana Kepada Anak

Walaupun anak masih balita, gak ada salahnya untuk mengajak / membiasakan anak berkomunikasi dan memberikan informasi sederhana tentang hal –hal yang dijumpainya, dikunjungi dan hal-hal yang berkaitan dengan keamanan, sebelum dan sepanjang perjalanan.

Untuk Emil sendiri, sejauh ini dia paham secara sederhana, jika kami naik kereta api atau bis maka tujuan selanjutnya adalah rumah nenek di Bali sedangkan jika kami memilih menggunakan pesawat maka tujuan akhirnya adalah rumah Mbah Uti di Balikpapan, termasuk hal-hal menyenangkan apa saja yang akan dia jumpai nantinya.

Demikian beberapa tips berdasar pengalaman pribadi saya ketika melakukan perjalanan 6 jam  menggunakan kereta api bersama balita, kalau kalian bagaimana punya pengalaman atau tips menarik naik kereta api bersama balita, boleh banget berbagi cerita di komen:)

Semoga bermanfaat dan terimakasih sudah membaca.

 

2 thoughts on “Tips Nyaman Naik Kereta Api Bersama Balita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *