Diary

Perpisahan

Selepas Magrib, selesai menunaikan sholat saya kembali duduk di depan layar laptop, telapak tangan meraih mouse hitam dan mulai menggerakkannya di atas permukaan meja yang sudah bergurat karena lapisan catnya yang terkikis akibat  gesekan.

Emil masih berguling guling di kasurnya sesekali ia menghampiri saya dan mengganggu saya yang asyik menonton tayangan channel di youtube.

Sedangkan pak suami setelah makan dan minum obat, kembali berbaring di atas kasur menemani Emil bermain dan meladeni setiap celotehan kalimat acak yang meluncur dari bibir kecilnya. Setengah badan pak suami tertutup sarung kotak kotak garis ungu, sejak kemarin pagi badannya memang sedang tidak fit, keluar masuk toilet bisa lebih 3 kali dalam satu hari.

Ahh apa mungkin saya salah kasih makan, bakso beku itu seharusnya tidak di konsumsinya walau sedikit.

Saya masih asyik menonton channel di youtube, sampai Emil keluar kamar lagi, lalu menarik kain baju saya untuk menemaninya bermain , karena bapaknya yang sedang tidak enak badan tersebut sudah terlelap dan meringkuk lelah dalam tumpukan bantal di badan.

Beberapa detik kemudian badan saya sudah menjadi arena bermain bocah kecil ini, sebentar bentar ia melompat, merayap, duduk dan mencium pipi saya, lalu saya kembali berteriak lagi kesakitan karena kaki kecilnya berhasil ‘menimpa’ perut saya.

Ketika saya masih mengaduh, handphone tiba-tiba berbunyi berkali-kali menandakan ada pesan yang masuk, tapi saya masih enggan mengambilnya, sampai bunyi yang ke lima kalinya barulah saya meraih handphone yang saya letakkan di atas meja rias.

Ada pesan yang masuk, pesan pertama yang saya baca

“…ayahku sudah gak ada..”

Pesan tersebut dari sahabat lama saya sejak SD, dari tulisan pesan pendek tersebut tersirat ada banyak keharuan dan kepasrahan yang dalam.

Beberapa detik kemudian dada saya terasa sedikit sesak.

Sesak, karena terbayang wajah Almarhum ayah sahabat saya ini ketika saya berpamitan di pintu rumah ketika akan pulang ke Surabaya , walau saya tidak kenal secara dekat, karena beliau memang tidak banyak bicara, namun saya merasakan ada keramahan yang selalu melekat di wajah dan tuturnya.

Sesak, karena saya tidak bisa datang memberikan penghormatan terakhir buat beliau.

Sesak, karena saya tidak bisa memeluk langsung sahabat saya ini hanya untuk sekedar menguatkan.

Sesak, karena ikut merasakan sebuah perpisahan yang membuat seseorang tidak akan akan kembali lagi dan akan dirundung rindu yang berat.

 “ inshaallah dimakamkan bakda sholat zuhur.. “

Tepat  saat azan Isya berkumandang, saya menghela napas cukup panjang, berusaha sedikit melepaskan rasa sesak di dada dan butiran air yang menggenang di mata.

Emil masih bermain main dengan bantal gulingnya, saya pun beranjak mengambil wudhu dan mendirikan sholat.

Orang bilang, kita tidak bisa menyadari seseorang sangat berarti dan bernilai di hidup kita, sampai orang tersebut pergi.

Mungkin hal seperti ini adalah jeda, jeda untuk menyelami hati dan membaca diri, apa yang sudah kita perbuat, apa yang sudah kita lakukan terutama untuk kedua orang tua kita, yang sering kali kita abai dan langgar tanpa sadar.

Teringat bapak dan ibu saya di rumah, yang bermil-mil jauhnya, semoga mereka selalu diberi kesehatan dan keberkahan.

Alloohummaghfirlii waliwaalidayya warham humma kamaa rabbayaa nii shaghiiraa

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”

Al-fatihah buat ayahanda sahabatku, Deepe.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *