catatan Catatan Kaki

Main ke Kebun Binatang Surabaya, Naik Suroboyo Bus

Kalau saya ingat lagi, pertama kali saya ke Bon Bin Surabaya ( kebon binatang ) , ketika usia saya masih di bawah 10 tahun, kok tahu ?  saya hanya mengira ngira saja, dari berkas photo berwarna yang sedikit terlihat usang dan hampir tidak utuh pinggirannya.

Seorang anak dengan topi lonceng dan celana pendek model kodok, nyengir sampai terlihat gigi-giginya yang tampak tidak rata, berdiri di samping seorang wanita  yang berpose cool,  berdandan ala 90-an  dengan dress motif garis-garis kecil dan kacamata besar berlensa coklat.

Saya dan ibu saya berphoto di samping kandang Kuda Nil yang sedang berjemur,  sayangnya kepala kuda nil tersebut tertutup wajah saya yang sedang nyengir kuda.

Baiklah, itu hanya cerita pengantar saja,tapi masih ada hubungannya, karena kami saat ini akan berencana pergi ke Kebun Binatang Surabaya.

Bus Merah atau Bus Kuning, pilih yang mana ?

Saya pikir, bepergian di hari senin dengan angkutan massal seperti Suroboyo Bus adalah pilihan waktu yang tepat, kemungkinan bangku akan banyak yang kosong sehingga kami bisa langsung naik dan santai duduk di dalam bis, terhindar dari sengatan matahari dan debu kendaraan.

Seperti pengalaman kami sebelumnya : Naik Suroboyo Bus, Bayar Pakai Sampah

Nyatanya, kami sedang berdiri menepi, mengindari sengatan panasnya matahari, di depan pintu keluar terminal Bus Purabaya, bersama puluhan penumpang lainnya, menunggu SB ( Suroboyo Bus ) berikutnya yang kosong, karena SB sebelumnya telah penuh penumpang dan hanya tersisa tempat untuk bergelantungan.

“ Saya sudah nunggu dari jam 9 pagi  mba, tapi bisnya penuh anak sekolah, jadinya yang umum ini gak terangkut “ curhat salah satu ibu yang sedang duduk di samping saya sambil menyodorkan segelas minuman dingin ke bibir anaknya.

Saya lirik jarum jam di pergelangan tangan, hampir menyentuh pukul sepuluh, menjelang siang, walaupun di sana terdapat bus tumpuk, namun sayangnya bus tersebut tidak sedang beroperasi.

Curhat ibu itu masih berlanjut “ rencananya saya mau naik bus tumpuk  ini mba, kan masih gratis belum harus tukar botol, eh ternyata katanya belum bisa, jadi ya naik bis tayo aja, anak saya sih terserah, yang penting bisa jalan-jalan keliling kota “

Saya pun mengernyitkan dahi, kok belum bisa, bukannya bis ini, bis baru dan menurut informasi sudah bisa beroperasi ?

sekitar 30  menit kemudian SB merah berikutnya pun datang, namun kami tidak bisa langsung masuk, SB yang baru datang ini harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum mengangkut penumpang baru, selalu begitu.

Selesai dibersihkan, pintu bis terbuka dan petugas mempersilahkan kami masuk, saya pun naik, agar tidak terpisah dengan Emil dan pak suami, saya pun memilih kursi berwarna oranye yang terletak di bagian belakang. Kursi oranye ini diperuntukan untuk siapa saja, berbeda dengan yang berwarna pink dan merah .

Akhirnya saya berhasil duduk anteng di dalam SB merah, sambil menunggu bus bergerak saya pun melirik ke luar jendela, nampak beberapa petugas berfoto dengan latar belakang bus tumpuk, beberapa orang lainnya masuk sambil membawa kamera, sebagian lagi sibuk memindahkan tripodnya.

Saya sedikit menyimpulkan, sepertinya ada kebutuhan dokumentasi yang perlu diambil, mungkin itu sebabnya bis tumpuk berwarna kuning yang parkir tepat di sebelah SB merah ini tidak bergerak, dengan alasan belum bisa digunakan.

Antusiasme masyarakat terhadap SB tumpuk ini cukup tinggi, karena hampir separuh penumpang yang sudah berada di dalam SB merah kebanyakan ingin menjajal bis tumpuk , ketika melihat SB tumpuk sudah bisa dinaiki, mereka ingin berpindah bus, sayangnya tidak bisa karena pintu SB sudah tertutup dan SB merah mulai bergerak.

 

Ke Kebun Binatang Surabaya, Turun di mana ?

Perlahan SB bergerak, keluar dari terminal dan bercampur dengan kerumunan kendaraan lainnya, kondisi jalan siang itu cukup padat, sehingga SB pun ikut merayap dengan diiringi lantunan lembut lagu internasional kekinian, hembusan pendingin ruangan dan suspensi yang nyaman, cukup mengasyikan dibandingkan harus berpanas-panas ria dengan polusi kota.

Baca juga : Berwisata sejarah murah, Tugu Pahlawan

Wahh..ternyata SB ini full music juga ya, berbeda ketika pertama kali saya naik, hanya sajian layar tv yang nyaris tanpa suara.

Ada dua pilihan halte pemberhentian jika kalian berencana naik SB ( Suroboyo Bus ) dari Terminal Purabaya dengan tujuan Kebun BInatang Surabaya, halte tersebut adalah Halte Joyoboyo dan Halte Museum BI.

Kalian bisa turun di dua halte tersebut, namun jika tidak ingin terlalu jauh berjalan ada baiknya kalian berhenti di Halte Museum BI, lebih dekat menuju KBS dibanding kalian harus turun di Halte Joyoboyo, kondisi jalanan juga lebih teduh dan pendek.

Tak butuh waktu lama, tujuan wisata kami semakin dekat, bus berhenti dan kami pun turun di Halte Museum BI, ransel berisi bekal saya sandang, kamera saya kalungkan, micro trike yang kami lipat sejak dari rumah mulai pak suami buka.

Oh iya nanti saya akan review tentang micro trike stroller ini di postingan selanjutnya, ya.

Kami pun berjalan segera menuju loket KBS (Kebun Binatang Surabaya), Emil duduk dengan santai di atas dudukan micro trikenya sementara pak suami mendorong santai di belakang, meliuk liuk ringan tanpa harus kerepotan menggendong.tubuh Emil yang semakin bertambah saja bobotnya.

Beberapa penjaja photo instan langsung menyambut kami dengan berbagai tawaran untuk sekedar bergambar dengan latar belakang patung Suro dan Boyo, namun kami menolak dan memilih membeli beberapa buah potong sebagai camilan.

Ada Apa di KBS ?

Sampai di depan loket pembayaran, saya sejenak mengamati, Kebun Binatang Surabaya yang bulan Agustus lalu merayakan ulang tahun ke 102 ( 1916 – 2018 ) ini, sepertinya kini mulai berbenah, permukaan dinding loketnya digambar beraneka rupa warna flora dan fauna, di atasnya tergantung papan digital sebagai informasi harga tiket.

JIka kalian datang dengan rombongan maka biaya tiket masuk perorang akan dikenai seharga Rp.13.000 jika tidak maka akan dikenai tiket perseorangan yaitu Rp.15.000, termasuk anak balita dengan tinggi lebih dari 85 cm. Setelah selesai melakukan pembayaran kami pun diberi gelang kertas sebagai tanda masuk ke area KBS.

Suasana siang itu tidak begitu ramai pengunjung, sehingga menjadi keuntungan bagi kami bisa jalan –jalan dengan tenang,

Ruginya adalah binatang lebih banyak beristirahat, tidak ada kegiatan memberi makan satwa ataupun bermain bersama, kebanyakan satwa siang itu tidak terlalu aktif.

Selain itu banyak wahana yang tutup, menurut info, mereka hanya buka Sabtu dan Minggu.

Jika penasaran ada apa saja di KBS kalian bisa kunjungi situsnya di surabayazoo atau bisa follow Instagram Kebun BInatang Surabaya untuk update info terkini.

Walaupun di dalam KBS terdapat kantin dan warung makan, namun kami memilih berkeliling mencari tempat teduh dan nyaman untuk sekedar membuka bekal, nasi putih dan beberapa potong perkedel jagung dan ayam bakar.

Suasana di dalam KBS ini cukup bersih dan rindang, banyak fasilitas baru yang dibangun untuk memanjakan para pengunjung. Jauh berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya yang membuat saya sempat enggan berkunjung, karena miris dengan kondisi kandang beserta hewan-hewannya.

Kalau sekarang, bisa jadi saya akan main-main lagi ke KBS dan ingin mencoba wahana dan fasilitas baru yang ditawarkan.

Kebun BInatang Surabaya yang beralamat di Jl. Setail no.1  ini, buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, Jadi bagi kalian yang ingin rekreasi murah sekaligus berwisata edukasi, piknik bersama keluarga Kebun Binatang Surabaya bisa jadi pilihan. bahkan ada penawaran spesial bagi kalian yang merayakan ulang tahun di sini. Kalau ingin mencoba semua fasilitas di dalamnya, kalian bisa datang di hari Sabtu dan Minggu.

Karena hari sudah hampir menjelang sore kami pun beranjak pulang, tentunya dengan naik bis dan menunggu di halte yang sama.

Bagaimana dengan kalian, suka main-main ke kebun binatang juga ?

 

 

19 thoughts on “Main ke Kebun Binatang Surabaya, Naik Suroboyo Bus”

    1. mungkin fasilitas yg ditawarkan bonbin bandung berbeda dengan yg di bonbin sby mb, sy sih blm pernah kesana hehehe..trims sdh mampir y mb 🙂

  1. Kapan hari baca info ada bis gratis di Surabaya, ternyata belum beroperasi ya? Pingin banget nyobain soalnya baru 3 bulan disini dan belum kemana2 karena ada bayik, hehe.. Nanti klo anak udah agak gedean pingin juga nyobain jalan2 ke bonbin Surabaya, hehe.. Tfs mba

    1. hai mba dina, di sby juga ya..hehehe..sudah beroperasi mba dua duanya, yang bus tingkat ( kuning ) dan bus biasa ( merah ) kalo mau naik harus tukar botol. bisa di coba mba 🙂

  2. Hai mba 🙂 blogwalking nih. Btw, saya suka sekali tulisan di blog mba sangat rapi dan tertata. Terstruktur gitu. Jadi lebih mudah membacanya. Keren! Salam kenal yah, mba.

  3. hihihi, saya kepo sama foto masa kecilnya di bonbin tersebut 😀
    Terakhir saya ke bonbin tahun kemaren deh, tiketnya masih sama saja ya, kalau berkunjung di musim kemarau kurang asyik deh, soalnya banyak yang gersang.

    Btw anak saya mupeng pengen naik bus tumpuk, sayang waktunya belum bisa-bisa, kami baru cobain yang Suroboyo Bus biasa saja, yang tayo merah kata anak saya hehehe.
    Tapi belum pernah naik dari Bungur sih, selalunya cegat di tengah jalan, enak banget pakai aplikasi Go-Bis, jadi bisa track lokasi SB dan gak perlu nunggu lama di halte 🙂

    1. foto saya simpan rapat-rapat mba hehehe..:) – saya juga masih penasaran dengan bis tumpuk, belum kesempatan mungkin lain kali

  4. Saya penasaran sama bus yang bayar pakai botol plastik nih. Mau nyobain belum sempat- 😀
    Oya, KBS sekarang jauh lebih terawat ya? Semoga manajemennya lebih peduli dengan kondisi satwa di dalam KBS 🙂

  5. Hai mbak Mega,

    Sudah lama banget nggak main ke Bon Bin ini. Sudah banyak yang berubah kayaknya, makin rapi dan bersih ya. Seingatku terakhir kesini ketika si sulung masih SD gitu. Wah, Bon Bin selalu padat pengunjung ya. Setiap lewat sini, parkiran selalu ramai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *