Catatan Kaki

Mlaku – Mlaku Bus Suroboyo, Bayar Pakai Sampah

Setelah cukup lama hanya melihat dan membaca, postingan orang-orang yang sudah mencoba Bus Suroboyo,  di Instagram, blog dan youtube, akhirnya saya keturutan juga menjajal bis yang kerap disebut Tayo – nama salah satu karakter kartun bis bewarna merah – oleh beberapa penumpang yang bepergian dengan anak balitanya

Hai Tayo, hai Tayo, dia bis kecil ramah, Melaju, melambat, Tayo selalu senang

Suroboyo Bus ini  diresmikan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada  bulan April 2018 lalu, sedangkan saya baru mencobanya 5 bulan setelahnya.

Bayar Pakai Botol Plastik, Hampir Kecewa.

Sekira pukul 10 pagi dengan membawa 3 kantong botol plastik, kami menuju terminal Purabaya, Bus Surabaya ini parkir tepat di depan pintu keluar terminal. Saat itu terlihat ada 4 bus yang parkir kami pun menukarkan botol plastik yang sudah saya kumpulkan dari warung dan tetangga sekitar seminggu sebelumnya, di pos penukaran yang terletak di sebelah bus tersebut berhenti.

Hanya terdapat satu kursi kayu panjang, 1 meja, 2 kursi dan satu kipas angin kecil untuk mengusir panas yang terdapat di ruangan yang luasnya sekitar 3×3 meter, cukup sempit apalagi di bagian dalam dan luar banyak terdapat kantong-kantong dan tumpukan botol bekas beraneka merek.

Seorang ibu masuk, dengan sekarung botol plastik lalu keluar lagi dengan memegang beberapa lembar kertas di tangan. Setelah ibu itu keluar, saya pun masuk dan terjadilah masalah, botol kami tidak layak ditukarkan karena kondisinya sudah diremas.

“ sesuai kebijakan kami dari dishub botol yang di tukar tidak boleh diremuk bu “

“ lho tapi mba di Instagram Bus Suroboyo, botol boleh diremuk loh untuk memudahkan membawanya “

“ iya bu, itu berbeda “

Waduh saya pun berpandangan dengan pak suami, gagal donk rencana kita naik bis, gimana nih.

Tak lama masuk seorang ibu-ibu membawa galon ukuran kecil, dan lagi-lagi kedua petugas wanita di bagian penerimaan sampah, menolak dengan cukup halus namun tidak bisa menghilangkan sedikit kekesalan dan lelah di wajahnya, padahal belum tengah hari.

Kalau saya tebak, mereka sudah menghadapi banyak penumpang seperti kami dan ibu-ibu tadi, yang baru pertama kali naik dan salah menerima informasi yang didapat.

Lalu apakah kami akhirnya pulang dan Emil kecewa ?

Syukurnya tidak, mungkin karena alasan ketidak tahuan kami dan pada prinsipnya bus ini gratis karena tujuan utamanya adalah ingin mengkampanyekan kebersihan lingkungan, khususnya sampah plastik, sehingga petugas akhirnya membolehkan kami naik dan memberikan 9 stiker sebagai tiket.

Lets Go, Kita Naik Bus Suroboyo

Bodi bus suroboyo ini rendah ( low deck ), mungkin itu sebabnya Bus Suroboyo ini parkir di depan terminal, tidak masuk sampai ke dalam, yang mempunyai struktur jalan tinggi dan cukup curam.

Dengan dibalut cat bewarna merah terang dan stiker besar lambang khas Kota Surabaya, bus ini terlihat sangat kontras, berbeda dengan bus-bus kota pada umumnya. Suroboyo Bus ( SB ) memilik jendela yang lebar  sehingga memudahkan mata para penumpang untuk melihat pemandangan kota.

Masuk kedalam, terlihat kursi-kursi diberi warna sesuai prioritas, kursi dengan warna merah jambu khusus untuk wanita, warna merah terang khusus untuk lansia dan orens untuk laki-laki / umum. Semakin berjalan ke belakang, lantai bus semakin tinggi.

Pendingin ruangan menurut saya tidak terlalu dingin namun cukup sejuk, entah kalau kondisi penumpang ramai, karena pada saat pertama kali saya naik, jumlah penumpang masih sedikit, walaupun tidak begitu sejuk namun ada saja salah satu penumpang yang merasa kedinginan, apa kulit saya tipe kulit Badak jadi tidak merasa kedinginan sama sekali.

Saya pun mengambil kursi bewarna oranye agar bisa dekat dengan Emil dan pak suami.

Seorang ibu yang tepat duduk di depan saya bercerita kalau dia mempunyai tiket yang berisi banyak stiker, karena hampir setiap hari selalu menggunakan jasa SB ini untuk pergi ketempat ia berjualan, Pasar Turi.

“ kalau mau naik bis ini kudu sabar mbak, kudu santai gak bisa buru-buru “

Iya memang, pada kenyataannya bis ini baru berangkat setelah kurang lebih 30 menit parkir

Rek ayo rek
mlaku-mlaku nyang Tunjungan

Jangan kira petugas SB ini seperti petugas bus kebanyakan, yang berpakaian kemeja atau kaos biasa dengan saku / kantung baju yang penuh dengan karcis yang berlipat lipat dan spidol yang selalu berada di genggaman.

Semua petugas bus Suroboyo terlihat berpenampilan muda dan keren. Kemeja biru lengan panjang dipadu dengan celana taktis warna khaki dan sepatu boot lapangan bewarna senada, cetak tiket pun dilakukan secara otomatis.

Tidak ada sampah atau remah roti berserakan, tidak ada pengamen jalanan, tidak ada hiburan musik, hanya layar televisi ukuran sedang yang menampilkan tayangan pengolahan sampah kompos dan beberapa kegiatan Bu Risma, nyaris tanpa audio.

Jangan khawatir kecopetan, karena SB dilengkapi kamera pengintai ( CCTV ) di beberapa bagian bus, selain itu bus ini juga di lengkapi tombol-tombol darurat seperti tombol stop dan tombol darurat untuk kecelakaan / kebakaran.

Rek ayo rek
rame-rame bebarengan

Dengan kecepatan maksimal 50 km/jam, SB ini cukup tenang berjalan, kabar baiknya bus ini terintegrasi dengan sistem pengaturan lalu lintas jadi jangan khawatir akan terkena lampu merah, bus ini akan tetap terus berjalan sehingga perjalanan terasa cepat tanpa hambatan.

Uniknya, setiap akan melakukan pemberhentian , bus ini akan menginformasikan nama – nama halte dengan 3 bahasa, yaitu Indonesia, Inggris dan Jawa,  badan bus akan terasa sedikit miring ke kiri jika pintu terbuka ketika akan menaikan dan menurunkan penumpang,  sehingga ramah terhadap penyadang disabilitas, karena ketinggian bus sejajar dengan pedestrian.

Menurut petugas, bus ini beroperasi mulai pukul 6 pagi sampai 10 malam, dengan rute Terminal Purabaya sampai Rajawali pulang pergi, melintasi jalur utama Kota Surabaya.

“ kalau mau lebih mudahnya bisa dicek lewat aplikasi GoBis bu, untuk mengetahui rute dan halte terdekat “ kata salah satu petugas SB

Tiket Bus

Jatah satu stiker adalah 2 jam perjalanan, jadi jika kalian berhenti di salah satu halte lalu naik lagi  dalam waktu tidak lebih dari 2 jam, maka tiket masih bisa dipakai lagi,

Jika tidak, maka berlaku tiket baru, jika tidak punya cadangan tiket, bisa jadi anda harus ‘mulung’ sampah botol plastik dulu sesuai jumlah yang ditentukan untuk ditukar dengan 1 tiket / stiker

3 Botol plastik  besar = 1 tiket

5 Botol medium = 1 tiket

10 Gelas plastik = 1 tiket

Untuk Emil sendiri menurut petugasnya berlaku satu tiket, namun setelah saya lihat ternyata petugas karcis hanya membolongi 2 stiker saja.

Maringene mandeg nang halte…

Nah, seperti itu kalimat  informasi yang disampaikan menggunakan bahasa jawa, karena tujuan tempat wisata kami sudah dekat, kami pun turun.

Memangnya kami mau kemana ? nanti akan saya ceritakan di postingan selanjutnya.

Semoga bermanfaat, suwun yo rek wes moco tulisanku.:)

 

6 thoughts on “Mlaku – Mlaku Bus Suroboyo, Bayar Pakai Sampah”

  1. Dulu pernah sekilas membaca informasi ini.
    Tapi, tidak mendetail seperti ‘curhat’nya mba Mega ^^
    Untung banget aku mampir, pas lihat muncul notif di grup fanspage KEB
    Jadi semakin bertambah wawasan dan semacam konfirmasi.
    Bahwa memang benar di Surabaya ada bis yang dibayar pakai botol plastik.
    Semoga bisa menular ke kota-kota lainnya.
    Inspiratis banget memang ibu Risma ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *