Diary

Mimpi Aneh #Scary Stories (1)

Hai..hai..siapapun yang membaca tulisan ini terimakasih banyak sudah berhenti sejenak di blog saya dan memberikan komentar.

Terimakasih

Jadi hari ini saya ingin menulis hal yang sedikit berbeda.

Ide ini muncul ketika nonton  Nessie Judge, kalau ada yang belum tahu Nessie Judge itu siapa, silahkan cek ke youtube channelnya, dia suka banget membahas hal-hal mistis, aneh, unik dan sesuatu yang penuh konspirasi yang terjadi di dunia ini.

Dan saya suka.

Tapi jangan tebak saya penyuka film horor, saya lebih baik menonton film bisu dibanding film horor, karena saya penakut.

Oke balik ke topik cerita, Sebetulnya ini pengalaman sudah lama banget terjadi, ketika saya masih berkuliah di Surabaya, percaya enggak percaya tapi ini terjadi.

Seperti mimpi menyeramkan, didatangi arwah dan kamar kos kosan yang berhantu.

Mungkin saya akan cerita satu persatu , cerita pertama yang mau saya tulis di sini adalah tentang mimpi.

Photo Priscilla Du Preez – Unsplash

Mimpi

Saya orangnya gak percaya dengan hal-hal seperti tafsir mimpi atau hal-hal yang berkaitan dengan mimpi, bagi saya mimpi adalah bunga tidur, ya sudah, ketika terbangun dari tidur, mimpi tidak sampai saya pikirkan berlarut –larut, apalagi sampai membawanya ke dalam kehidupan.

Jadi saya selalu melupakan bunga tidur saya.

Namun khusus untuk mimpi tentang ini, masih saya ingat sampai sekarang, padahal sudah bertahun tahun lamanya.

Saya pun juga sudah tidak pernah mengalami hal serupa seperti itu lagi.

Ketika itu ibu saya sedang berduka, kami menerima kabar bahwa nenek meninggal dunia, saat itu juga ibu saya langsung terbang dari Balikpapan menuju Surabaya lalu lanjut melalui perjalanan darat menuju  Wlingi.

Saya juga memutuskan untuk tidak ikut perkuliahan, demi menemani perjalanan ibu menuju rumah nenek, karena ini pertama kalinya ibu bepergian sendiri.

Dengan menggunakan mobil travel yang juga dipesan secara dadakan dari Balikpapan, saya pun turut serta di dalam mobil tersebut.

Kami sempat terjebak macet cukup lama, handphone tak henti-hentinya berdering meminta kabar dan posisi kami sudah sampai di mana, nenek akan segera di makamkan.

Dengan air muka yang sedih akhirnya ibu saya dengan pasrah mengatakan untuk segera saja dilakukan pemakaman, tidak usah menunggu kami tiba disana, karena pasti akan memakan waktu cukup lama.

Dan benar saja sesampai di rumah, ternyata nenek sudah dimakamkan beberapa jam sebelum kami tiba, kami lalu turun dari mobil dan tangisan ibu pecah dalam pelukan saudara perempuannya, yaitu bude dan bulek saya, beberapa pelayat yang kebanyakan tetangga dekat  juga masih nampak berkumpul di sana.

Esok harinya saya pamit pulang karena ada perkuliahan yang harus diikuti, saya pun pamit dan berjanji pada ibu akan kembali lagi ke Wlingi, beberapa hari lagi untuk menemani beliau.

Kurang lebih seminggu lamanya, saya pun kembali ke rumah nenek saya di Wlingi , Blitar.

Seperti biasa saya selalu menggunakan Bis sebagai alat transportasi.

Saya tidak ingat pasti hari apa, yang saya ingat saya berangkat pagi dari Surabaya dengan menggunakan bis antar kota, 3 jam lebih perjalanan dalam bis dengan ditemani suara gitar dari pengamen jalanan  yang selalu berganti shift setiap bis menghentikan laju rodanya, di halte, di terminal, di manapun.

Menjelang siang hari saya pun tiba, sorenya ibu mulai bertanya kepada saya, meminta pertimbangan kapan sebaiknya pulang dan transportasi apa yang akan digunakan.

Sebetulnya saya menyerahkan sepenuhnya ke ibu untuk kembali pulang  ke Balikpapan, tapi menurut beliau sudah cukup waktunya menemani serta melepas kangen bersama saudara dan harus kembali pulang ke Balikpapan minggu ini juga.

Baiklah

Saya pun mengusulkan hari Jumat pagi  kami akan kembali ke Surabaya dengan menggunakan bis antar kota, ada alasan tersendiri saya memilih hari Jumat dan bis sebagai alat tranportasi untuk pulang ke Surabaya.

Saya memilih bis karena merupakan salah satu angkutan yang setiap waktu ada, cukup menunggu di pinggir jalan dan tak perlu jauh-jauh membeli tiket di terminal, sedangkan Jumat saya pilih, agar ibu bisa jalan jalan sejenak untuk menengok kost-an saya di Surabaya, sebelum kembali pulang ke Balikpapan.

Kamis malam jumat, beberapa pakaian sudah kami packing.

Lepas Isya ibu  mengobrol di ruang tamu bersama bulek, saya yang sedang berbaring di atas kasur hanya jadi pendengar saja, lama kelamaan mata saya mulai tidak kuat dan terlelap.

Hari Jumat dan masih pagi sekali,  saya berdiri bersama ibu saya di pinggir jalan besar, menunggu bis antar kota yang lewat untuk kami naiki menuju Surabaya. Tidak ada sanak saudara yang mengantar ataupun yang membantu menenteng tas yang kami bawa.

Dari kejauhan terlihat sorot lampu bis yang cukup menyilaukan dan klakson yang  dibunyikan pendek-pendek.

Bis pun berhenti, seorang kernet turun dan membantu mengangkat tas kami.

“ YOOOO! “ teriakan kernet bus memberi aba aba pada sopir bus untuk bergerak kembali.

Bis pun bergerak, meninggalkan asap hitam yang mengepul di belakang, saya dan ibu duduk dipinggir dekat jendela, namun saya merasakan suatu hal yang tidak seperti biasanya, semua penumpang tampak diam dan dingin, sepi.

Tiba-tiba suasana bis berubah suram, aroma di dalam bis pun juga tidak biasa, tidak ada aroma rokok,parfum atau bau bau khas bis pada umumnya.

Anyir seperti bau darah, tapi saya abaikan.

Seseorang mendekati kami ditangannya tergenggam setumpuk kertas karcis,  saya rasa dia adalah kernet bis yang tadi membantu mengangkat tas kami.

Kernet itu mulai membuka mulutnya dan mengatakan kepada kami secara tergesa-gesa.

“ Turun di sini saja ya mbak, tunggu bis yang lainnya, ayok mbak ! “

“ ada apa? Saya bayar kok. “ saya mulai bertanya , karena hanya kami saja yang disuruh turun, sedangkan penumpang lain tampak tenang saja, memandang kami pun tidak.

“Bis ini gak akan sampai ke kota mba, sudah mba turun di sini saja ! “ kernet itu mulai memaksa kami turun, bau anyir semakin menusuk hidung, amis sekali.

Bis mulai mengurangi lajunya dan kami pun dipaksa turun, seketika dinding  dan kursi bis nampak berubah reyot, terkelupas, hilang warna aslinya, semua berubah dan ada bercak seperti darah menempel pada punggung kursi dan dindingnya.

Kami turun dan bis meninggalkan kami di pinggiran jalan, kami berdiri dan diam seperti awal mula menunggu bis datang.

Ada apa ini? bau anyir masih membekas di hidung dan pikiran saya.

“ NAIK BIS LAINNYA SAJA MBAK ! “

Teriakan kernet bus membangunkan saya, dari mimpi.

Masih tengah malam dan ruangan depan telah sepi, semua penghuni rumah masih terlelap.

Pagi itu, saya mulai merasakan hal yang tidak enak, sangat tidak nyaman dan itu mengganggu saya.

“ jadi pulang pagi ini gak ?” tanya ibu saya

Akhirnya saya pun menghampiri ibu saya yang saat itu sedang mencuci beras, bahwa hari kepulangan diundur saja, Sabtu atau Minggu saya lupa, yang jelas hari Jumat kita tidak pulang, kita merubah rencana awal.

Saya sama sekali tidak menceritakan perihal mimpi tersebut kepada ibu saya. Setelah memutuskan kami tidak pulang hari itu, hati rasanya tenang, hingga suatu kabar dari ujung kampung terdengar sampai telinga kami.

Sebuah kecelakan bus antar kota jurusan Blitar – Surabaya pagi tadi, terjun bebas ke sungai hingga merusak pagar pembatas jalan, diduga rem blong, supir mengatuk, atap bis terlepas dan semua penumpang tidak ada yang selamat.

Innalilahi wainailaihi rojiun.

Apakah ini firasat? Wallahu alam.

Setelah keadian itu saya tidak pernah bermimpi seperti itu lagi, kalau pun bermimpi buruk saya percayakan semua perlindungan kepada Allah SWT dan banyak berdoa agar selalu diberi kebaikan di setiap mimpi kita.

” Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illa Billah”
(Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata-mata )

Apakah ada yang mempunyai pendapat lain tentang mimpi / bunga tidur atau mempunyai pengalaman yang serupa, yuk berbagi.

Terimakasih.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *