Keluarga

Mengenalkan Buku Pada Balita

Melahirkan minat baca anak pada buku itu tidak serta merta, apalagi kalau orang tua atau lingkungan di rumahnya tidak  mempunyai kebiasaan membaca.

Ini bisa jadi ada benarnya, memang Emil tertarik terhadap buku itu tidak tiba tiba, apalagi untuk mengenal huruf dan angka, Saya lupa pastinya, kapan saya mulai mengenalkan buku kepada Emil dan saya juga tidak tahu, apakah kebiasaan yang saya lakukan ketika itu, berpengaruh terhadap minat baca Emil saat ini.

Seingat saya, ketika Emil berusia sekitar 5 – 6 bulan, setiap kali jalan jalan ke Mall saya selalu menyempatkan diri mampir ke toko buku favorit, walaupun itu hanya sekedar melihat-lihat saja dan tidak ada yang dibeli.

Saya biarkan tangan Emil menyentuh setiap permukaan buku buku tersebut, tentunya dengan tetap menjaga agar tangan kecilnya tidak merobek dan menarik, wahh..bisa hancur dunia persilatan nak.

Lalu ketika usia Emil menginjak 1 tahun, saya mulai membelikannya buku bantal, buku bantal ini adalah buku pertama Emil yang terbuat dari kain dengan dakron sebagai isiannya, sehingga terasa empuk seperti bantal dan juga anti sobek.

Buku ini berwarna cerah dengan ilustrasi yang menarik dan kalimat cerita yang singkat, harga nya pun juga murah, tidak sampai 40 ribu Rupiah.

Saya membelikannya 3 seri buku bantal, yaitu : seri mengenal abjad, mengenal hewan dan seri mengenal gerak gerik binatang.

Ketika itu Emil belum bisa berbicara, apalagi mengucap kata dan menirukan saya mengeja abjad, Emil lebih banyak diam, mengacuhkan, membolak balik buku bantal, melemparnya bahkan pernah sampai terkena tumpahan air dari gelas minumnya.

Ya sudah saya biarkan saja, toh buku tersebut tidak akan sobek.

Buku bantal tersebut selalu berada disekitarnya, ketika ada kesempatan saya bacakan, membacanya pun tidak dengan suara nyaring, biasa saja, yang penting Emil mendengarnya.

Selalu saja terus begitu, saya berusaha melakukan dengan cara yang lucu dan mengasyikan.

Sampai suatu ketika Emil mulai tertarik dengan buku bantalnya, memperhatikan lalu mengikuti setiap saya menunjuk suatu abjad, warna, angka dan bentuk.

Pada akhirnya semua bentuk dan abjad mulai dari A-Z yang terdapat dalam buku bantal tersebut telah dihapalnya, setelah itu ia pun mulai tertarik dengan buku Teddy Bear ABC dan segala buku yang bergambar dengan warna yang menarik.

Tidak terbatas hanya buku saja, pengenalan terhadap angka, huruf dan benda juga saya kenalkan melalui poster tempel murah meriah, seharga 1000 rupiah.

Dan sekarang jika ia bosan dengan gadget nya, maka ia akan menuju kamar lalu meminta untuk membaca buku bersama sama atau minta belajar melalui poster tempel bergambar nya.

Jujur saja terkadang saya juga dihinggapi rasa malas, menemani Emil hanya untuk membuka buku,lalu minta diberi pertanyaan untuk bentuk atau abjad yang ada dalam buku tersebut, tak jarang juga saya asal-asalan menanggapi isi bukunya

Kalau sudah begitu saya yang kena protes dan hanya mendengarkan dia bercerita  apa saja yang dilihatnya dalam buku tersebut, sampai saya tertidur.

Tapi paling tidak Emil bisa akrab dengan buku dan tidak terus menerus sepanjang waktu dengan gadget nya. 

Yah, semoga saja ia bisa terus akrab dengan bukunya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *