Diary

Memilih Nama Untuk Anak

Hari ini saya mau cerita tentang nama anak aja ya, karena beberapa minggu ini timeline Fb saya lumayan rame dengan status kelahiran anak pertama disertai komen komen kebahagian di bawahnya, termasuk komen yang kepo nama anak.

“ nama anak cantik/gantengnya siapa om/tante?”

Dan ini yang membuat saya tergelitik, kenapa ya memberikan nama anak harus panjang dan rumit?

Nama adalah doa, menurut sebagian orang semakin panjang nama anak, maka sepanjang itulah doa dan harapan orang tua ke anak, tapi kenapa susah untuk dieja?

Bagi saya memilih nama untuk anak itu seperti mengolah masakan, menginginkan masakan dengan hasil terbaik bukan berarti memasukan seluruh unsur bumbu terbaik di dunia tanpa memilah dan memilih mana yang sesuai dan cocok di lidah, sehingga terkadang saya temukan beberapa nama panjang anak yang menurut saya seperti dipaksakan.

Para orang tua muda menurut saya saat ini lebih cenderung memilihkan nama yang extraordinary untuk anaknya dengan bahasa yang unik dengan pengucapan yang tidak biasa, seperti pemberian huruf kembar dan konsonan yang berderet seperti gh,ee,yy,sh,ch dalam nama anak mereka.

Sehingga menimbulkan kebingungan, seperti gimana cara nulisnya, pengucapannya bagaimana dsb.

Mungkin ada anggapan begini , memberikan nama anak yang lebih modern bisa menunjukan kelas sosial bagi orang tuanya, nama nama anak sederhana seperti Budi atau Wati misalnya gak sebegitu populer di kalangan kelas menengah keatas yang lebih memilih nama modern seperti Nailazaara atau Ardiaz.

Memilih Nama Anak

Dulu ketika Emil masih di dalam perut, belum lahir ke dunia, kepala saya sudah banyak memikirkan nama nama anak yang bagus, cocok, bermakna dan yaah yang gak pasaran serta cukup keren kalau diucapkan,.

Kebetulan saya yang ditunjuk pak suami  mengumpulkan daftar nama anak yang cocok, sedangkan dia, sebagai tempat keputusannya. Dan dimulailah “perburuan” nama untuk anak saya yang belum jelas jenis kelaminnya apa, hahaha.

Dari hasil Googling dan baca buku, tertulislah deretan nama untuk bayi perempuan dan laki laki yang menurut saya oke banget. Ketika saya sodorkan selembar kertas yang beriisi daftar nama tersebut , sebagian besar nama  tersebut dicoret. WHAT!

“ lha kok banyak yang dicoret? “

Menurut pak suami nih ya, semua nama yang saya pilih itu bagus semua gak ada yang jelek, hanya satu yang kurang, kesederhanaan, selain itu juga menurut pak suami pemilihan nama juga harus memperhatikan sambungan tiap kata dan jangan sampai mudah dijadikan bahan ejekan buat si anak dikemudian hari.

Misal,  Candika Surya, menurut pak suami nama ini bagus tapi jika digabungkan tiap perkatanya maka akan menjadi CandikaSurya- Candikasurya-Candikasurya-Candikasurya-Candikasurya   (Mohon maaf, jika ada kesamaan nama dari pembaca)

Memilih nama juga penting memperhatikan ejaan yang mudah diucapkan di lidah orang, agar tidak terjadi kerumitan dalam pencatatan nama di administrasi, untuk membuat akte misalnya.

Wah iya, ini pengalaman saya banget, nama saya terhitung panjang dan sedikit ribet, dulu ibu saya sampai bingung nama belakang saya itu seharusnya pakai H, tanpa H, pake E atau pake J dan F, Savithri, Savitrie atau Sjafitri.

Keribetan ini membuat nama belakang saya di Akte, SIM, dan KTP menjadi beda beda, ditambah petugas catatan yang terkadang asal nulis aja tanpa bertanya, suka suka pendengaran dia lah.

Saya masih ingat betul, bapak saya sendiri juga pernah protes masalah nama saya yang gak terdaftar di daftar masuk sekolah SD, usut punya usut ternyata nama yang tercantum tidak sesuai dengan nama saya, Mega menjadi Meja – meja? meja tulis? apa nama salah satu penyanyi luar –Its all about the money,its all about the dum dum duh dee dum dum, I dont think its funny..

Oke lanjut bahasan ya, jadi pak suami memperhatikan betul untuk masalah ejaan nama ini biar tidak terjadi kerancuan dalam pengucapan dan penulisan, misal sebagai contoh nama Keenan, saya suka dengan nama ini dan sempat saya masukan dalam daftar pilihan nama untuk anak, namun ditolak pak suami karena pengucapan dan penulisan yang sulit, Kenan, Keenan atau Kinan?.

Nama nama panjang yang menyulitkan juga ditolak pak suami, seperti contoh Rajendra Aprillianto Yaseer Al Diin, ini bagus menurut saya tapi BIG NO buat pak suami, karena susunan huruf yang rumit dan lidah rasanya terlilit.

Kalau diibaratkan menata ruang, susunan kata dalam nama tersebut tidak rapi dan rungsep.

“ kasihan nanti si anak, teman dan gurunya kesulitan mengeja namanya, memang sih terlihat keren dan unik, tapi ntar dipanggil uus misalnya sangking sulitnya dipanggil“

Pernah nih ya ada tetangga, nama asli anaknya cukup bagus terdiri dari 4 suku kata, eh tapi ujung ujungnya si anak malah dipanggil Cempluk, tetangga saudara bahkan orang tuanya juga memanggilnya begitu,  sayang sekali kan, nama panjang yang cantik berganti panggilan menjadi Cempluk bisa jadi nama Cempluk itu akan melekat terus sampai dia dewasa.

Kira kira si anak nantinya akan protes gak ya? Entahlah.

Pak suami lagi lagi melanjutkan syarat syaratnya dalam memilih nama anak.

“ Jangan pakai abjad terdepan dan abjad terakhir juga, pakai abjad tengah tengah aja, biar kalau urutan pembagian raport gak lama lama nunggu, jangan pakai nama yang panjang , nanti kalau ujian gak cukup nulis  di kolom nama, aku mau dua kata saja untuk nama dan islami “

Oh iya saya pernah juga mengajukan meletakan nama pak suami di belakang nama anak kami nanti, maksud saya sih biar ada identitas nama bapaknya sekaligus untuk pengenal, dan lagi lagi penolakan terjadi, duh banyak banget ya ditolaknya hahaha.

Kalau dari pendapat pak suami, memberikan nama Ayah di belakang nama anak itu gak ada kewajiban, itu hanya budaya. Pak suami juga gak ingin ke ego dirinya agar namanya terus hidup dan dikenal dalam nama anaknya.

“ gak perlu, karena suatu hari nanti dia pasti akan menggunakan bin atau binti nama bapaknya di belakang namanya, itu udah otomatis gak usah ditambahkan dalam namanya lagi. Biarkan anak mempunyai jalan ceritanya sendiri, yang lain dengan cerita bapaknya “

Nama Adalah Doa

Emeel Qomaroos Syajeed – NO

Akchmed Emil Sajeed – NO

Karena nama adalah doa maka kami letakan doa baik dalam namanya.

Dari puluhan nama yang saya cari pada akhirnya disepakatilah nama Emil Sajid, untuk nama anak laki laki pertama kami. Dua suku kata saja, saya rasa sudah cukup apik dan terlihat berbeda dari nama nama panjang anak lainnya.

Sajid saya pilih ketika pak suami melantunkan ayat dari surah Yusuf dan ada potongan kalimat tersebut di dalamnya. Sajid juga dalam lidah dan penulisan orang lokal atau luar juga tidak rumit.

Emil berarti unggul atau utama sedangkan Sajid mempunyai arti sujud, harapan kami adalah anak kami menjadi orang unggul yang mengutamakan sujud kepada Tuhannya.

Dan semoga harapan kami yang terkandung dalam ejaan namanya benar benar sesuai dengan sifat dan perilaku kesehariannya. Amiin.

2 thoughts on “Memilih Nama Untuk Anak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *