Membangun Kampung, Dari Balik Sampah Yang Menggunung

Nomor kontak yang saya hubungi untuk menggali detail info lokasi kampung di pesisir timur Surabaya, tidak membuahkan hasil, namun itu tidak menyurutkan langkah, dengan berbekal alamat yang didapatkan dari artikel online, saya pun menyambangi suatu kawasan yang mungkin bagi sebagian orang tidak berselera jika membahasnya, apakah ini akan menjadi sesuatu yang menyenangkan atau sebaliknya?

Dari rumah, motor kami belokan ke arah timur Surabaya, semakin masuk ke dalam, jalanan yang kami lalui semakin menyempit, pemandangan gedung-gedung tinggi, taman dan jalanan besar kota Surabaya yang bersih tertata, berubah menjadi pemandangan  berbeda.

“Membangun Kampung Sebagai Awal Membangun Bangsa” ,

Slogan dalam spanduk yang kami lewati, ketika mulai memasuki Kampung Keputih Tegal

TPA Keputih Dulu dan Kini

Tidak banyak sejarah yang menceritakan asal muasal kampung ini, menurut warga, konon Keputih mengambil nama dari seorang ulama, Mbah Buyut Putih, beliaulah yang pertama kali membuka lahan di daerah tersebut.

Daerah ini dulunya merupakan Tempat Pembuangan Akhir dan juga merupakan kampung pemulung, jadi tak heran beberapa gang kampung yang kami lewati  masih menyisakan pemandangan  kumuh dan seadanya.

Namun sejak  TPA Keputih ini berhenti beroperasi  ( tahun 2001) dan pindah ke Kecamatan Benowo, saat itulah kampung-kampung di sini perlahan mulai berbenah.

Seperti di Kampung Keputih Tegal Timur Baru, Kelurahan Sukolilo, kampung tersebut berada tepat di belakang eks Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ).

Untuk menuju ke sana, kami harus melewati pepohonan bambu ramping, tumbuh rapi berderet-deret di kiri dan kanan, membuat  jalan aspal yang kami lalui terasa teduh, bersih dan tertata.

Suasana ini sempat membuat kami sejenak lupa bahwa kawasan ini dulunya adalah  TPA.

Saya pernah membaca sebuah artikel di koran, daun-daun bambu yang rendah dan rapat dapat mengurung dan menyerap bau sehingga bau tidak menyebar, mungkin ini salah satu alasan, kenapa eks TPA Keputih ditanami ribuan pohon bambu

Kampung Keputih Tegal Timur Baru

Kami arahkan motor ke arah selatan, keluar dari hutan bambu, suasana di area ini berbeda dari sebelumnya,  jika tadi di kiri kanan kami berderet-deret tanaman bambu yang teduh, namun kali ini gunungan sampah yang nampak sudah mengendap lama dan menghitam tersaji di depan mata, dari dalam tumpukan sampah menyembul aneka bentuk barang dan kemasan yang tidak bisa diurai tanah.

Tumpukan sampah dan bangunan baru di sekitarnya

Sampah, sampai saat ini masih  menjadi persoalan utama kota-kota besar, Indonesia sendiri menghasilkan sampah sebanyak 175.000 ton setiap harinya.

Di Surabaya, tahun 2016 Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) mencatat, sampah yang masuk setiap hari di TPA  mencapai 1.500 ton perhari, dengan proporsi 60 persen sampah organik dan 40 persen sampah anorganik. 

Khusus untuk sampah anorganik ( plastik dsb. ) setiap harinya ada 400 ton yang masuk ke TPA. Angka tersebut bisa saja berubah, seiring bertambahnya jumlah penduduk dan gaya hidup masyarakatnya.

Walaupun sampah-sampah di sini  sudah tidak berbau, karena sebagian lahan telah diubah oleh Pemerintah Kota sebagai ruang terbuka hijau yang asri, seperti Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, namun, beberapa lahan kosong yang belum terjamah, masih menyisakan sampah, yang mungkin sudah ada sejak eks TPA Keputih ini dibuka pada tahun 1970.

Dari kejauhan kampung ini hampir tidak terlihat karena tertutup pemandangan sampah dan bangunan baru yang berdiri megah, kalau saja tidak tampak sebuah gapura sederhana bertuliskan Kampung Berseri Astra.

Kampung yang dihuni sekira 300 KK ini, sangat berbeda dengan pemandangan di sekitarnya, jalan masuknya pun terpaving rapi, kampung ini berusaha bertahan hidup di tengah kepungan sampah dan pembangunan yang terus bergerak di sekelilingnya.

 “Baru-baru ini kami mengajukan surat kepemilikan lahan ke pemerintah, biar kalau ada pembangunan kami tidak sampai kena gusur, yah paling tidak kami bisa dapat ganti” ungkap Tatiek selaku Ibu Ketua RT

Penduduknya rata-rata berprofesi sebagai pekerja bangunan, penyapu jalan dan ibu rumah tangga.

Meskipun sederhana, kampung yang terletak di Jalan Keputih Tegal Kelurahan Keputih Sukolilo ini, terlihat asri dan guyub.

Lahan di kampung ini sempit, jalanan hanya cukup dilalui 2 motor saja, itupun harus turun jika berpapasan dengan motor lainnya, walaupun begitu anak-anak nampak ceria berlari-larian di bawah lengkung hijaunya Pohon Markisa, beberapa ibu-ibu duduk berbincang dan sebagian lagi nampak memotong beberapa daun layu dari tanaman pot yang tumbuh di teras rumah mereka.

Rumah-rumah warga yang wilayahnya terbagi menjadi RT 03, 04, 08 ini sebagian besar dibangun tanpa pagar, berderet-deret rapat dan tanpa pekarangan yang luas, namun semuanya cukup tertata, teras-teras rumah mereka tanami tumbuhan hijau beraneka rupa, nampak asri sejuk dipandang mata.

Kalau melihat kebelakang, dulu kampung ini jauh dari kesan bersih dan sehat.

Tatiek selaku ibu RT yang sudah tinggal dikampung ini sejak tahun 1960-an mengungkapkan, ia ingat betul bagaimana buruknya struktur tanah jalanan kampung ini, limbah cair yang mengalir dari Tempat Pembuangan Akhir, membuat tekstur tanah menjadi hitam dan lengket, bau menyengat dan lalat menjadi hal yang lumrah menghiasi setiap sisi kampung.

“Jalanan kampung ini dulunya kayak lumpur mba, hitam, lengket dan banyak lalat, akibat limbah pembuangan dari tumpukan sampah di sini” ujarnya.

Membangun Indonesia dari Desa dan Pinggiran Kota

Sempat mengalami penolakan dari  berbagai pihak, namun berkat kegigihan warga dan semangat cita-cita membangun kampung agar mentas dari permukiman kumuh, membuat PT. Astra International Tbk. melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), tergerak untuk menjadikan kampung ini sebagai salah satu kampung binaan dari 77 kampung yang tersebar di Indonesia.

Di tahun 2012, Astra pun mengulurkan bantuannya berupa fasilitas dan pelatihannya dalam aspek pendidikan, kesehatan, lingkungan dan kewirausahaan. Hal tersebut membuat semangat warga semakin terpacu. sebagian warga juga sudah ada yang merintis sebagai pelaku UMKM

Rumah Kompos dan Bank Sampah ini misalnya, warga diberi pelatihan bagaimana cara mengolah sampah organik hingga bisa menjadi pupuk dan bagaimana memanfaatkan Bank Sampah untuk memilah dan memilih sampah agar bisa ditukarkan dengan uang.

Pantas saja, di sepanjang jalan kampung ini, saya tidak menemukan ceceran sampah, tempat-tempat sampah yang selalu ada di depan pintu rumah warga, tertutup rapat dan tanpa lalat.

Di kampung ini juga terdapat area khusus Tanaman Obat Keluarga (TOGA), tanamannya banyak dimanfaatkan warga jika ada yang membutuhkan obat herbal untuk sakit ringan. pupuk kompos yang mereka buat juga dimanfaatkan untuk memupuk TOGA ini.

“Ini Ciplukan mba, warga sini biasanya direbus, terus diminum airnya buat obat tenggorokan” jelas Ibu Tatiek lagi, ketika melihat saya penasaran dengan salah satu tanaman obat milik mereka.

Rumah Pintar Astra

Dari area TOGA saya diajak ke sebuah bangunan berlantai dua, di tempat inilah para wanita dan dan anak-anak banyak berkegiatan, bangunan ini dinamakan Rumah Pintar Astra, tempat mereka berkreasi dan belajar, 1 kali dalam seminggu mereka melakukan senam untuk menjaga kebugaran, sebulan sekali dilakukan penimbangan bayi/balita dan penyuluhan kesehatan.

Tidak hanya itu, Rumah Pintar Astra ini juga sebagai tempat berkumpulnya warga untuk bermusyawarah dan menyelesaikan masalah.

Tak heran kalau kampung ini banyak menerima penghargaan atas partisipasi warganya dan menjadi langganan juara di setiap ajang lomba Surabaya Green and Clean sejak tahun 2012 hingga 2016, mulai dari kategori berkembang hingga maju.

“ini buat apa mba?” tunjuk saya ke salah satu alat musik di pojok ruangan

“Ohh..ini buat Patrol,anak-anak remaja sini suka main Musik Patrol mba” jelas salah satu warga yang saat itu melakukan senam kebugaran di salah satu ruangan Rumah Pintar Astra.

Ada salah satu Kelompok Usaha Bersama ( KUBE ) di RT 08, di sanalah budidaya jamur dilakukan.

Rumah Jamur ini merupakan salah satu perwujudan semangat warga di Kampung Berseri Astra,  menurut Heru selaku pemelihara Rumah Jamur, jamur-jamur tiram yang ia rawat baru saja panen beberapa hari  lalu, walaupun jumlahnya tidak seberapa namun melihat prospek yang bagus membuat warga terus berusaha dan tidak menyerah.

Budidaya Jamur Tiram

Rasa Jamur Tiram yang sekilas mirip daging ayam jika digoreng krispi ini, cukup laris dibeli oleh ibu-ibu di sekitar, pendapatan yang diperoleh sebagian disisihkannya untuk pembangunan kampung.

Satu kendala yang dihadapi dalam memelihara Rumah Jamur ini selain ketersediaan baglog (media tanam bibit jamur), adalah cuaca, karena menurut Heru, jamur seperti ini sebetulnya tidak cocok dikembangbiakan di Surabaya yang panas, jamur-jamur ini lebih cocok di dataran tinggi yang bersuhu rendah, namun Heru tidak kehabisan akal, untuk menurunkan suhu, ia lakukan penyiraman di sekeliling area 2 kali sehari, bisa juga sampai 3 kali jika cuaca sedang panas-panasnya.

Saya penasaran dari mana mereka mendapatkan air sebagai salah satu sumber kehidupan mereka.

IPAL – Instalasi Pengolahan Air Limbah, di tempat ini air bekas wudhu diolah kembali dan dimanfaatkan untuk menyiram tanaman
Water Treatment Plan (WTP) dan Toilet Komunal

Saya pun diajak untuk melihat WTP ( Water Treatment Plan), inilah sumber mata air utama warga yang pernah selama bertahun-tahun kesulitan dalam memperoleh air bersih, air dari sungai yang kotor dan penuh limbah disaring sedemikian rupa hingga menjadi air jernih dan bisa digunakan warga, mereka menyebutnya tempat penyulingan.

“Warga yang gak bisa ke tempat penyulingan (WTP), biasanya minta tolong lewat gerobak yang bawa jerigen, per jerigen biayanya Rp 2 ribu”

Namun sayangnya, akhir-akhir ini tempat penyulingan mereka kurang bekerja maksimal, walaupun begitu, mereka tidak mengeluh, masih ada air PDAM yang didistribusikan lewat satu meteran saja dari salah satu rumah warga, hal tersebut membuat warga harus merogoh kocek sekira Rp 35 ribu setiap bulannya. 

(sumber dok.Astra)

Keterbatasan Bukan Hambatan

Menjejakkan kaki di Kampung Berseri Astra ini membuat saya banyak bersyukur dan belajar, bahwa keterbatasan bukan suatu hambatan, keterbatasan tidak membuat mereka pasrah menyerah, keterbatasan harus dilawan dengan semangat, semangat membangun agar bisa menjadi kampung yang selalu berseri, mandiri dan berprestasi, karena perubahan nyata itu adalah selalu berproses tanpa henti.

“Tahun ini kami memang tidak ikut lomba green and clean, tapi kami tetap semangat membangun kampung ini, kami ingin Bu Risma ( Walikota Surabaya ) kemari dan melihat langsung kampung ini, kampung ini sudah bersih dan rapi “ ungkap salah satu warga

Kampung-kampung merupakan pembentuk sebuah kota, perlu perhatian dan pembenahan lebih lanjut agar menjadi perhatian dunia, semangat Kampung Keputih Tegal Timur Baru, sejalan dengan semangat partisipasi Astra dalam membangun Indonesia.

Semoga semangat membangun kampung seperti ini terus menyala dan menyebar hingga ke pelosok negeri.

————————-
*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Pewarta Astra 2018 “Semangat Kampung Indonesia”
*Ket : Photo dan Grafis diolah sendiri oleh penulis

Sumber data grafis :

  • m.Jatimtimes.com
  • jatim.metrotvnews.com
  • humas.surabaya.go.id

9 thoughts on “Membangun Kampung, Dari Balik Sampah Yang Menggunung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>