Bagaimana Rasanya Hidup Tanpa Televisi

Stop Watching tv

Hidup tanpa televisi bagaimana rasanya – Semalam hujan deras, suara petir juga bersahut-sahutan. Tapi kami tidak terlalu khawatir kalaupun nanti akan mati lampu. Semua alat elektronik juga sudah dimatikan.

Memang benar alat elektronik sudah kami matikan. Tapi ternyata yang tidak kami sadari adalah petir menyambar hingga kabel,  membuat salah satu bagian ruangan rumah kami konslet, termasuk televisi yang mendadak tidak bisa dinyalakan.

Apakah kami bisa bertahan hidup tanpa televisi ?

Mati Gaya Tanpa Televisi

Seharian kami hanya mendengarkan radio dari handphone. Biasanya televisi selalu kami nyalakan hampir seharian penuh, walau tidak kami tonton.

Tanya-tanya ke tukang reparasi, lumayan juga biaya perbaikannya. Sekitar 400 ribu rupiah belum termasuk harga ganti komponen. Setelah menimbang, akhirnya kami putuskan menunda perbaikan.

Sepertinya televisi sudah menjadi bagian dalam kehidupan saya. sejak kecil hingga remaja hiburan di rumah selain buku juga ada televisi.

Dan ini nih salah satu dampak negatif televisi bagi anak-anak di jaman saya, kalau sudah menonton acara kesukaan, bisa-bisa lupa waktu.

Komputer rumah yang pada saat itu masih berprosesor intel Pentium 2, dengan internet masih menggunakan  Telkomnet instan – sampai sekarang saya masih hapal deretan nomor ajaib ini – juga tidak bayak menarik perhatian saya melebihi televisi.

Wajar sih dulu internet belum semudah dan semurah sekarang. Oiya Kalian yang generasi 90-an pasti juga tahu deretan angka ‘ajaib’ milik telkomnet instan ini. iya gak? HIHIHI

Ketika saya mulai berkuliah di luar pulau televisi masih menjadi prioritas, walaupun jarang saya tonton, karena lebih banyak keluyurannya dibanding di kost-an.

PC saya install TV tunner, sehingga saya mempunyai  komputer plus televisi dalam satu kemasan.

Sampai akhirnya saya lulus dan bekerja sebagai editor di stasiun televisi lokal.

Pengertian televisi menurut para ahli adalah alat penangkap siaran bergambar berupa audio visual. Penyiaran video disiarkan secara broadcasting.

Sumber link : ayoksinau.com

Televisi Pertama Kami

Sampai waktu berlalu dan akhirnya saya resign, menikah dan menjadi pengangguran.

Ketika kami baru pindah ke Kota Surabaya, Salah satu prioritas yang harus ada di rumah kontrakan, adalah Televisi. Bagi saya televisi adalah salah satu hiburan yang bisa diandalkan pada saat itu. Apalagi saya akan lebih banyak di rumah, tidak bekerja.

Laptop pribadi sudah saya serahkan adik. sehingga hanya gadget saja barang elektronik yang saya bawa. Ditambah lagi pada saat itu saya masih terlalu peritungan dengan quota internet, mungkin karena belum terlalu perlu.

Sebelum mempunyai televisi, hari-hari saya habiskan dengan browsing, ngegame, baca buku dan iseng menggambar di ipad.  Sesekali belajar merajut dan mengupdate tulisan yang ada di blog dengan meminjam laptop suami .

Tapi tetap saja lagi-lagi ada yang kurang, televisi. Kok televisi sih bukan anak?!. huehehe Saya lagi hamil ketika itu, banyak nganggurnya butuh hiburan, tidak biasa keheningan.

Saya memang bukan tipe yang mantengin televisi terus menerus sepanjang hari, hanya suka menyalakan televisi dan didengar saja suaranya, sesekali menengok  untuk melihat gambarnya.

Jadi ketahuan kan, Fungsi televisi bagi saya tidak untuk ditonton melainkan agar tidak terlalu hening, hanya untuk suara-suara saja.

Kamipun membeli televisi baru, televisi pertama ini saya letakkan di dalam kamar kontrakan, tujuannya agar bisa santai menonton tayangan. Belum setahun kami menempati rumah kontrakan, kami pindah ke rumah yang sudah kami beli.

Sampai Emil lahir dan berusia setahun, televisi ini juga menjadi ‘pengiring’ ketika Emil bermain, karena hanya sekilas-sekilas saja dia melihatnya.Sampai pada akhirnya televisi kami dipensiunkan dini oleh petir.

Jederrr!!

Emil anak kami hanya bisa menunjuk-nunjuk layar persegi yang tidak memunculkan gambar. Pak suami biasa saja ekspresinya sedangkan saya merasa menyesal kabel televisi tidak dicabut tadi malam.

Hari-Hari Tanpa Televisi

 “Bagus donk, pikiran jadi bersih dari hal-hal tidak berfaedah, kamu memang gak nonton tapi kan mendengarnya sama saja, apalagi acara gossip / berita di TV bisa bikin sumpek pikiran, hemat listrik pula”

“ Tapi kan ga bisa nonton Jejak Si Gundul, Laptop Si Unyil, Gumball, We Bare Bears, bla..bla.bla “

“Tenang ada you tube, internet melimpah ruah juga ada hape radio hasil doorprize jalan santai ”

Hari –hari berikutnya semenjak televisi kami tidak menyala, hiburan kami lebih banyak mendengarkan radio, browsing dan ngobrol. Radio yang kami dengar pun siaran Suara Surabaya yang kerap memberitakan info-info seputar lalu lintas dan even kota.

Namun sayangnya radio hp kami tidak bertahan lama, batere kembung dan tidak menyala. Jadi hiburan suara hanya celoteh Emil, suara-suara sekitar. Sesekali suara dari laptop yang menampilkan streaming net tv.

Iya kami lebih memilih menonton tv online, seperti tv online sctv, tv online rcti. tv online trans 7 hanya untuk acara-acara tertentu saja. Selebihnya kami menonton youtube video atau youtube music kesukaan.

Kegiatan Tanpa Menonton Televisi

Pak suami lebih banyak bekerja di depan laptop , kalau ada waktu senggang memperbaiki perkakas rumah yang rusak, membersihkan halaman dan eksperimen masak

Disamping kegiatan domestic, saya sendiri mempunyai kegiatan baru sejak mempunyai laptop sendiri, mulai aktif nulis di blog dan berjualan online.

Sedangkan Emil lebih banyak berkegiatan di luar ruangan. Berimajinasi sesuka hatinya mengutak atik mainan plastic, lego sampai alat-alat dapur. Jika lelah bermain Emil mengambil duduk dan menonton tayangan youtube. Ipadnya saja saya tidak isi full batere, supaya Emil gak nonton berlama-lama.

Baca juga : 5 Aksesories wajib dibawa saat bepergian bersama balita

Gak Masalah, Yang Penting Internet Melimpah

Minusnya adalah kami tidak nyambung kalau diajak ngobrolin gossip / berita pertelevisian. Emil anak kami apalagi, pengetahuan tentang super hero sangat minim. Jadi kalau digoda mainan super hero atau robot-robotan, dia lebih memilih  enjoy dengan mainan kepunyaannya sendiri.

Baca juga : Amankah membawa anak bermain di playground

Hari gini gak ada televisi gak masalah, yang penting internet melimpah ruah

Kalau ditanya mungkinkah hidup tanpa televisi ? saya jawab, mungkin banget.

Yang tidak mungkin saat ini adalah hidup tanpa internet. Semua informasi sekarang ini bisa kita cari di internet, termasuk stalking mantan. eh?

Hampir 3 Tahun Hidup Tanpa TV

Sampai hari ini ternyata kami sudah hampir 3 tahun hidup tanpa TV. Televisi LED hitam kami tinggalkan berdebu di sudut ruangan kamar belakang yang kami jadikan gudang sementara.

Dan sepertinya hanya kami saja yang hidup tanpa televisi di perumahan ini. setiap kali ibu warung ngobrol tentang curhat mamah dedeh, sinetron orang ketiga dan pentas video dangdut televisi. Sungguh saya tidak paham.

Meja televisi kami yang kosong, saya ubah menjadi meja untuk meletakan buku-buku yang kami baca. Laci yang dulunya sebagai tempat sinyal pemancar ( gak tau namanya) jadi tempat buku anak dan majalah Emil.

“Tanpa televisi hidup kami selow..sungguh selow..sangat selow..tetap seloww..”

Hidup tanpa televisi rasanya tenang. Tidak ada bombardir suara iklan, huru hara dunia politik hiburan dan kriminal. Dengan tidak adanya televisi,saya lebih bisa menyeleksi /mengontrol tayangan atau informasi yang masuk.

Eh tapi kan jaman sekarang  internet juga bisa lebih berbahaya, semua informasi bisa kita dapatkan. Apalagi anak sekarang lebih suka mantengin gadget.

Memang, tapi balik lagi semua kendali ada di tangan kita dan setiap orang mempunyai caranya masing-masing.

Baca juga : Gadget, orangtua dan anak

Walaupun tayang tv indonesia begitu-begitu saja. Tapi setelah kami pikir lagi, kemungkinan ada saatnya  kami akan mereparasi televisi yang rusak.

Pak suami malah ada rencana mau beli televisi yang layarnya besar, untuk ruang keluarga. Namun prioritasnya bukan untuk kami. tapi  untuk orang tua atau sanak keluarga yang datang berkunjung dan menginap di rumah. Mungkin biar serasa ada hiburan bioskop di rumah. HIHIHIHI…

Kalau begini televisi bisa jadi perlu juga, tapi tidak  sepenting internet. Iya gak sih?? bagaimana menurut kalian ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares