Gilimanuk -Ketapang : Abang Becak Pembalap dan Hampir Tertinggal Kereta

60 menit yang lalu,  kami, terutama saya berdoa dan ‘berpusing ria’ di atas  kapal penyeberangan Gilimanuk – Ketapang,  berfikir mencari  alternatif tranportasi pengganti jika memang kami tertinggal kereta api pagi.

Pikiran saya berlompatan sedangkan pak suami lebih memilih tidur di kursi kapal,pasrah dan ikhlas jika tertinggal kereta, sedangkan Emil sibuk melepas pasang stiker Krisna – salah satu toko oleh-oleh di Bali – yang ditempel penumpang sebelumnya di kursi kapal .

Cuaca cerah laut tenang, tapi hati saya tidak.

Seharusnya kami naik ferry yang sedang berangkat ini

Di Atas Ferry Gilimanuk – Ketapang

Saya sapu pandangan ke sekeliling  ruang tunggu kapal, dek penumpang ini lebar tidak ada kaca jendela, hanya di batasi oleh  pagar besi dan dinding kapal

Di belakang kami duduk pemuda yang tertidur dengan pulasnya, wajahnya tertutup jaket dengan tas sebagai bantalannya, di samping kami beberapa bapak sedang bercerita seru dengan kawannya menggunakan bahasa ibu mereka,  sementara di depan saya, duduk sepasang suami istri – ada cincin emas melingkar di kedua jari mereka.

Si perempuan duduk tenang sambil memainkan handphonenya, sementara suaminya mengikuti gerakan irama musik yang keluar dari speaker layar datar yang terpasang di ruangan penumpang.

Sambil sesekali menghisap rokok dan menikmati tayangan konser di layar kaca.

Musik dangdut koplo Banyuwangian yang diputar kru kapal, sama sekali tidak membantu otak saya untuk tenang, malah makin membuat gelisah dan runyam, saya sedikit bergeser menjauh, berusaha agar asap rokok tidak sampai langsung mengenai Emil.

Mainan stiker bekas
Masih jauh
Saat mengambil photo ini saya harus berhati-hati,  takut hp saya terjatuh ke laut

Saya membuang pandangan ke luar, air laut beriak lambat, beberapa kapal yang bergerak di sekitar kami juga bergerak lambat, awan seperti tidak bergeser dari tempatnya, sedangkan pelabuhan masih sangat jauh dari pandangan.

Ada dua pilihan tranportasi pengganti jika memang kami tertinggal kereta api.

  1. Tetap naik kereta api, namun resikonya kami akan menunggu kereta api selanjutnya, di jam seharusnya kami sudah sampai di Sidoarjo, itu berarti 5 jam kami akan ‘tersandera’ di stasiun Banyuwangi Baru
  2. Naik bis umum, sedikit mempersingkat waktu namun otomatis fisik kami akan lebih banyak berperan, naik turun bis, jalan sambil menggendong ransel di punggung dan anak balita di tangan, akan sangat melelahkan.

Duh..mulas perut saya.

Bolak balik saya melirik jarum  jam yang terasa lebih cepat dibanding gerakan kapal, 50 menit menuju kereta Api pertama berangkat, sedangkan kami masih duduk di atas dek kapal.

Apakah terkejar ?

Saya hanya diam saja, sedangkan pak suami masih pulas dalam tidurnya, nyaman terayun goyangan ombak yang menyentuh lambung kapal.

Beruntungnya lagi keadaan ombak saat itu tidak tinggi, kondisi saya juga cukup fit, biasanya yang paling saya khawatirkan adalah mabuk laut, apalagi kalau ombak  sedang tinggi, kapal terasa seperti akan terbalik.

Rencana perjalanan alternatif dalam otak seketika buyar, bersamaan dengan suara kapten kapal yang menyeru pemberitahuan dari pengeras suara.

Laju kapal semakin mendekat pelabuhan, jangan kira kapal akan langsung sandar, kapal harus berputar dulu mengantri giliran dengan kapal lain, paling tidak membutuhkan waktu 15 menit.

Walaupun, kapal belum sepenuhnya menempel sempurna di dermaga, beberapa penumpang sudah bersiap turun.

Saya kembali melirik pergelangan tangan, 20 menit sebelum keberangkatan kereta api, harap harap cemas.

“ Bamm…”

Benturan kecil pada lambung kapal yang sandar seperti aba-aba buat kami untuk bersiap turun, tas ransel yang beberapa menit lalu sudah menempel di punggung, saya benarkan posisinya.

Kami pun segera menuruni tangga  yang memiliki kemiringan sekitar 60 derajat.

Walaupun terburu-buru,wajib berhati-hati jika menuruni tangga besi ini.

  1. Usahakan untuk berpegangan, kalau tidak, bisa-bisa tergelincir atau paling parah bisa terjungkal ke laut.
  2. Hindari kondisi ramai / berdesakan ketika akan menuruni tangga kapal.
  3. Jangan berdiri / duduk di tangga

Untungnya kondisi pada saat itu penumpang tidak padat jadi kami bisa turun lebih dulu tanpa harus berdesakan.

Berbagi Tugas

Kami berbagi tugas, pak suami tandem mengendong Emil dan ransel di punggung, sedangkan saya menenteng tas berisi bekal makanan dan menggendong ransel.

Asap, aroma bensin, bising dan goyangan kapal menyatu di bagian dek bawah kapal tempat seluruh penumpang memarkirkan kendaraannya.

Kami menunggu kapal sandar sempurna, setelah dirasa cukup aman kami  setengah berlari menerobos deretan motor-motor yang bergerak perlahan keluar dari dalam lambung kapal.

Karena bawaan saya cukup ringan – tas ransel dan tas bekal – saya lebih cepat berjalan dan mencari tukang becak, sementara pak suami yang menggendong Emil, berusaha berjalan mengikuti saya dari belakang.

Sebetulnya jarak dari pelabuhan Ketapang ke Stasiun Banyuwangi Baru cukup dekat, bisa ditempuh dengan jalan kaki mungkin sekitar 10 – 15 menitan, kalau tidak tergesa seperti kami yang khawatir tertinggal kereta api.

Untung saja  di pelabuhan Ketapang ini banyak tukang becak yang berkerumun ‘menyambut’ para penumpang yang baru turun sambil menawarkan jasanya.

Baca juga : Mendadak traveling dan abang becak php

Tinggal pilih saja, mau abang becak yang mana.

“ stasiun pak, berapa lama ? bisa cepat gak pak nanti ? “

“ bisa..bisa mba, mari “ sambil mengambil alih barang bawaan kami, membantu mengangkat menuju tempat becaknya terparkir.

Tak ada pilihan lain, secepat apapun abang becak mengayuh pedalnya, saya tidak dapat berharap banyak roda becak akan lebih cepat dari roda kendaraan bermotor atau roda besi kereta api.

Kami bertiga duduk berdesakan di jok becak yang sempit, Emil kami pangku.

Emil tidak rewel, hanya diam saja sambil memperhatikan sekeliling, walaupun kami tergesa, masih kami ajak bicara sambil mengenalkan tranportasi umum yang kami naiki.

Lagi-lagi di atas becak saya kembali melirik pergelangan tangan, 10 menit menuju kereta berangkat.

Di atas becak yang meluncur melawan arah dan menyalip beberapa kendaraan bermotor, kami berbagi tugas lagi, nanti ketika sampai di stasiun saya langsung melakukan chek-in sedangkan  barang bawaan kami yang dinaikkan di atas becak akan pak suami urus, termasuk ongkos becak.

Untungnya lagi jalan raya pada saat itu tidak padat, becak yang kami tumpangi melewati beberapa turis yang memilih berjalan kaki sambil menyandang keril yang ukuranya lebih besar dari ransel kami.

Tidak memakan waktu lama, tepat 5 menit sebelum kereta api berangkat,  becak yang kami tumpangi masuk ke dalam stasiun kereta Banyuwangi Baru

Becak belum berhenti sempurna, namun saya sudah melompat dan berlari menuju pintu masuk, tidak sempat lagi berphoto mengabadikan momen-momen mengejar kereta atau mencari spot terbaik untuk ‘pamer’ di instagram, lupakan.

“ tiket buk..langsung scan saja di situ “

Saya lalu  mengarahkan layar handphone yang menampilkan kode barcode ke mesin scanner,  beberapa detik kemudian tiket tercetak satu persatu,  sambil saya perhatikan detail nama-nama yang tercetak, jangan sampai ada yang kurang.

Nama saya, nama pak suami daaaaan…”kreek “  nama anak kami Emil, lengkap.

Saya berlari lagi keluar menuju tempat pak suami yang berdiri sambil tetap menggandeng Emil  diantara barang bawaan kami.

Saya pun mengangkat ransel dan menyandangnya di punggung, lembaran tiket yang tercetak saya serahkan kepada petugas jaga.

“ Aku lebihkan tadi ongkos becaknya “ kata pak suami

Yo..ayooo

Tepat pukul 9 pagi kami sudah duduk di dalam gerbong bisnis Kereta Api Mutiara Timur Siang, 10 menit kemudian kereta api yang kami tumpangi perlahan bergerak meninggalkan Stasiun Banyuwangi Baru.

“ Teng..teng..teng “

Kami akhirnya pulang.

Baca juga : Tips nyaman naik KA dengan balita

Sebagai tambahan info.

Bagi yang ingin berencana pulang dari Bali dan memilih penyeberangan menggunakan feri lalu lanjut menggunakan kereta api dari Stasiun Banyuwangi Baru :

  1. Kapal feri Gilimanuk – Ketapang memang selalu ada 24 jam, namun untuk menunggu kapal selanjutnya biasanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam.
  2. Penyeberangan memakan waktu kurang lebih 60 menit, sudah termasuk waktu untuk sandar dan bongkar muat penumpang.
  3. Kereta Api dari Banyuwangi, akan berangkat setelah 5-10 menit dari waktu yang sudah terjadwal, usahakan on time
  4. Berpakaian yang nyaman termasuk alas sepatu / sandal pakai yang tidak licin.
  5. Jika membawa balita, jangan lengah dan beri pengawasan extra atau bisa juga memilih tempat duduk di bagian dalam kapal bukan di atas kapal.
  6. Pilihlah ransel / backpack yang nyaman.
  7. Jarak pelabuhan penyeberangan ke Stasiun Banyuwangi Baru ataupun sebaliknya cukup dekat, jika langkah kaki kalian cukup panjang dan kuat kemungkinan hanya butuh waktu 10 menit saja.
  8. Siapkan kondisi fisik dan mental, karena terkadang ombak sangat kencang – jika cuaca buruk – membuat kapal bergoyang, terkadang sampai terlihat tinggi air laut.
  9. Jika lebih mengutamakan kenyamanan dan mempunyai dana lebih kalian bisa memilih tranportasi seperti Pesawat.

Apakah kalian pernah mempunyai pengalaman yang sama ? silahkan berbagi cerita di komentar ya.

Terimakasih, salam hangat.

Sharing is caring!

6 komentar untuk “Gilimanuk -Ketapang : Abang Becak Pembalap dan Hampir Tertinggal Kereta

    1. uhmmmm..ini perjalanan dari Gilimanuk menuju Ketapang mba, alhamdulilah tidak kesiangan sampai di Ketapangnya, karena kami tiba pagi jam 9 kurang, dari jadwal berangkat kereta api.

      kalau kapalnya telat datang, lebih tepatnya kita jangan sampai telat datang mba kalau ingin cepat sampai dan masih harus lanjut lagi naik kereta api, walau ferry selalu ada 24 jam tapi setiap pergantian ferry yang berangkat dengan yang baru datang kita harus menunggu kurang lebih 30 menit, sudah saya ceritakan di atas hehehe…

      Terimakasih sdh mampir ya mba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *