Diary

Cerita Hari Minggu #01

Anak Sakit, Meronta di Atas Timbangan Badan

Jadi, hari Minggu tadi,  kami kedokter anak di RS Delta Surya Sidoarjo,  malam sebelumnya kami sudah dari bidan untuk memeriksakan Emil yang tiba tiba panas tinggi, sebetulnya Emil sudah panas sejak 2 hari lalu, namun karena masih lincah. bergerak terus dan tidak ada kesulitan makan jadilah kami tidak memberikan obat apapun, sampai  suatu saat Emil buang air dengan kondisi feses yang gak bagus.

Selepas magrib pergilah  kami ke bidan,  bidan memberikan puyer pereda panas untuk saat itu dan menyarankan agar besok hari sebaiknya dirujuk ke dokter spesialis anak, agar dapat diperiksa lebih lanjut.

Pukul 8 pagi, kami sudah diatas motor,  mencari dokter praktek yang disarankan oleh bidan, namun ternyata dokter praktek tersebut tutup dan hanya buka di hari aktif saja.

Karena Emil panasnya tidak ada perubahan, saat itu juga kami memutuskan untuk mencari tempat dokter spesialis anak di tempat lain.

Pak suami pun mengarahkan motor ke Rumah Sakit terdekat.

Masuklah kami ke ruangan Klinik Spesialis di RS Delta Surya Sidoarjo,untung saja hari itu ada dokter yang praktek, walaupun kami harus menunggu sekitar  kurang lebih setengah jam, karena dokter baru datang pukul 9 pagi.

Sebelumnya kami memang belum pernah berobat di RS tersebut, sehingga saya pun harus mengisi formulir data pasien dan membayar uang periksa dan administrasi sebesar 150.000 Rupiah.

Kami pun naik ke lantai 2, Alhamdullilah yang mengantri tidak terlalu banyak dan kami mendapat urutan no 2.

15 menit sebelum dokter datang. Suster menimbang badan anak dan menanyakan keluhan anak, tibalah saat untuk ditimbang, Emil meronta menolak untuk  ditimbang berat badannya.

“ Emil..ayok timbang “

“ ndak mau..”

“ itu loh cuman jam bergerak “

“ ndaaaak mauu..” sambil meronta di lantai, klosotan dan terlentang.

Haduh lebaynya kau nak, saya angkat dan terpaksa sambil menggendong Emil saya naik ketimbangan, suster lalu mengurangi jumlah timbangan dengan jumlah berat saya sendiri.

“ duh nak mana bisa valid hitungannya kalo kamu meronta begini “

Saya cuman mbatin aja, Kacau.

Kaca mata patah

Setelah melakukan timbang badan,  saya pun duduk di sofa, sambil liat si bocah masih saja lari kesana kemari, padahal badannya lagi panas.

Naik turun bangku, lari lari , mutar mutar, ketawa – Anak kecil ini apa gak sadar dia lagi sakit ya.

Saya yang melihat si bocah lari kesana kemari dengan teman sebayanya, jadi pusing sendiri.

“ ah lepas sejenaklah kaca mata “ baru saja tangan melepas kaca mata.

“ Lho, lepas..” saya kaget, ngadu dong  ke suami yang lagi duduk santai di sebelah.

“ini apa apaan padahal baru banget ini kacamata dipake dua kali, cuman buat jalan aja, duh harganya gak murah lagi “ saya mulai ngomel sendiri.

“coba liat..wah ini gak lepas, ini patah, udah di bungkus aja dulu besok kita ke optiknya “ kata pak suami

“ hah besok?  jangan besok sekarang aja..habis pulang dari sini “

“ emang buka? Kan hari minggu “ tanya pak suami lagi.

“ buka..pasti buka”

Saya pun terdiam.

Tanpa kacamata semua tampak buram, muka Emil tampak rata, tulisan ngeblur semua, tapi melihat  jalan saya masih bisa hanya saja sangat sangat tidak nyaman.

Hati saya mulai kesel, gimana gak kesel, menurut saya frame dan lensanya nya termasuk mahal,  hampir 2 jutaan, dan sekarang dengan harga segitu yang baru 2 kali pakai udah lepas hanya dengan sekali tarik.

Ini namanya harga gak sesuai kualitas – merasa tertipu.

Saya mau marah, mulai menyusun rencana, pulang dari dokter anak langsung ke optik dan mencak-mencak sambil menuntut ganti rugi, apapun alasannya pokoknya ganti rugi, kalau tidak saya akan share ke sosial media biar tahu semua kalau saya dirugikan, saya sudah bayar mahal  kok.

Tapi di sisi lainnya saya harus tenang, paling tidak jangan mencak mencak, jangan bernada tinggi ketika komplain ke optik, susun kata kata dengan jelas dan terperinci, berusaha legowo jika memang mereka tidak mau ganti rugi, saya juga  tidak akan share ke sosial media, tapi saya tidak akan ke optik itu lagi.

Cukup.

Tepat saat suster memanggil giliran untuk periksa, tiba tiba  si bocah menghampiri saya buat nempel – habis batere kah kamu nak.

Tapi tenyata Emil tidak habis tenaga, tenaganya masih kuat untuk meronta di atas meja periksa, sampai harus dipegang tangan dan kaki, agar dokter dengan mudah memeriksa badannya.

“ nak nak, cuman di sentuh stetoskop aja gak sakit kok “

“ ndaaakkk..mauu..ndaakk..mauuuu “

Setelah diperiksa, dokter pun menuliskan resep untuk meredakan bakteri penyebab radang  yang Emil derita  dan menyarankan untuk sementara tidak makan makanan yang renyah dan yang dingin.

Setelah keluar dari ruang periksa

Karena saya tidak memakai kacamata, pak suami saya suruh berjalan di depan sambil menggendong Emil sedangkan saya berjalan pelan di belakang, jangan sampai saya jatuh menggelinding dari tangga. Payah.

Sambil menunggu antrian obat, saya memangku Emil dan memeluk badannya nya yang masih panas, badannya sedikit bergetar.

Saya bingung , apakah harus berubah rencana, pergi ke optik untuk komplain, di tunda saja – ah jangan plin plan.

“ itu punya bapak..bapak di situ..bapakkk “ Emil masih ngoceh.

Dan saya putuskan ke optik saja hari itu, daripada ditunda besok, kasihan nanti Emil, besok saatnya rehat di rumah saja, gak kemana mana, biar penyembuhan maksimal.

Obat sudah kami tebus seharga 235.000 Rupiah, yang meliputi obat radang, antibiotik, prebiotik dan penurun panas.

Kami pun sudah meluncur di atas motor menuju optik yang terletak di pusat kota Sidoarjo.

Di depan Sun City sepeda motor kami sempat terjebak macet, untung saja cuaca sedikit mendung sehingga tidak ada sinar matahari yang biasanya terik.

Sampai di optik, saya masuk dan petugas optik heran melihat saya datang kembali.

“ Ada apa mbak” tanya petugas optik itu

“ Sebentar ya mba “ saya pun mencoba menjelaskan dengan tenang  “ ini lho mba, kacamata saya kok gagangnya lepas begini “

Saya pun mengeluarkan kaca mata yang sudah saya bungkus kerta tisu.

“ padahal saya baru pakai ini 2 kali lho mba, mba tau sendiri kan, kemarin saya ambil, langsung saya pakai“  jelas saya lagi.

“ iya mba “

“ nah ini saya pakai lagi untuk jalan dan barusan tadi saya mau lepas kacamata, kok  tiba tiba patah, padahal saya lepasnya ya biasa aja“ jelas saya lagi

Sambil berkata tenang mba penjaga optik itu pun kembali  menjawab.

“ baik mba, saya mengerti , boleh ini kacamatanya ditinggal dulu aja ya, nanti saya akan hubungi mba nya lagi “

“ oke mba ga papa, nanti bisa hubungi saya di no ini ya , terimakasih “

Saya pun berlalu pergi.

Yah paling tidak saya sudah berusaha sedikit tidak mengedepankan emosi yang meluap dalam melakukan segala sesuatu, memang sih meluapkan emosi membuat kita lega dan puas namun setelah itu pasti ada rasa penyesalan.

Tapi ada satu yang sepertinya saya lupa,yaitu untuk tersenyum.. Haha

 

Sidoarjo, November 19,2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *