catatan motherhood

Bongkar Kado Lahiran Isinya Mengejutkan

Cerita 3 tahun lalu.

Saya kaget isi bingkisan bayi yang diberikan ibu-ibu komplek ketika Emil lahir, diluar perkiraan saya.

Sudah Tradisi

Setiap ada kawan atau saudara yang lahiran saya selalu mencari-cari, isi kado apa yang tepat dan pantas untuk diberikan. Bagi saya tipe kado atau bingkisan yang diberikan paling tidak memenuhi 4 kriteria, seperti di bawah ini :

  • Tidak terlalu mahal.
  • Bisa dipakai dan berguna.
  • Barang sesuai jenis kelamin bayi
  • Masih ada hubungannya dengan bayi / ibunya

Seperti pengalaman saya dulu – masih single dan belum punya anak – ketika membeli kado untuk kawan yang baru saja melahirkan.

Atas saran ibu saya, dari rumah sudah saya persiapkan barang seperti apa yang kira-kira nanti akan saya beli buat kado si bayi.

Namun ketika masuk toko perlengkapan bayi, ambyarlah fokus saya, banyak pernak-pernik bayi lucu menggoda iman.

Mulai dari kutang hingga celana dalam, mulai dari atasan hingga bawahan, mulai dari gendongan hingga ayunanan, mulai dari popok hingga alas ompol.

Duh lucunya, ambil semua gak ya? lihat dompet ternyata isinya pas-pasan.

Beberapa saat seteah mengumpulkan fokus yang tercecer,  saya akhirnya pulang dengan membawa satu buah jaket bayi berbahan lembut, hangat, karakter beruang putih dan beberapa celana tidur serta pakaian sehari-hari untuk si bayi.

Sampai saya menikah, jenis barang-barang tersebut selalu tidak jauh dari list belanja untuk dijadikan sebagai kado kelahiran. Kalaupun ketika nanti akan ada  kado untuk lahiran anak kami, pun kemungkinan juga tidak jauh-jauh dari perlengkapan bayi tersebut.

 

Pindah Rumah

Setelah 3 bulan menempati rumah , saya akhirnya lahiran di lingkungan yang benar-benar baru dan jauh dari orang tua.

Walaupun kami termasuk orang baru di perumahan ini, saya tidak menyangka mereka sungguh perhatian, beberapa tetangga menanyakan kabar saat saya masih tergolek di RSIA dan beberapa lagi menitip salam karena belum bisa menengok langsung.

Sekitar sepuluh hari setelah kepulangan saya dari RSIA.

Menjelang Magrib, saya terkejut rombongan ibu-ibu komplek yang saat itu kami belum kenal semua namanya, menjenguk saya di rumah.

Padahal saya tidak terlalu berharap dikunjungi, karena sadar saya masih orang baru, belum banyak kenal siapa-siapa.

“Assalamualaikum”

Untung saja pak suami sudah membeli suguhan tamu, sekotak air mineral dan beberapa toples makanan kecil.

“Walaikumsalam, silahkan masuk ibu-ibu” sambut saya dari dalam ruang tamu

Ibu-ibu yang saya perkiraan jumlahnya sekitar 8 orang tersebut, hampir semua membawa bingkisan terbungkus plastik, bentuknya macam-macam, dari segi empat hingga berbentuk buntalan.

Selanjutnya obrolan kami tidak jauh dari proses melahirkan hingga mitos. Mitos apaan? saya lupa mereka cerita apa, saya mendengarkan saja.

Menjelang Magrib, rombongan ibu tersebut pulang.

“Lekas besar dan pintar ya dek, mba kami pamit pulang ya, sudah Magrib”

“Oh ya, terimakasih ya ibu-ibu, terimakasih banyak”

Bingkisan yang terkumpul di ruang tamu, kami pindah ke kamar belakang, kami akan membukanya besok.

Bongkar Kado

Sambil memegangi perut yang masih terasa sisa-sisa operasi kemarin , saya coba perlahan duduk di karpet dan mengambil bungkusan, yang kami terima dari beberapa kawan dan rombongan ibu-ibu komplek.

Berikut isi kado yang saya terima dari kawan dan keluarga

  1. Satu set perlengkapan makan bayi
  2. Tas perlengkapan bayi
  3. Perlengkapan tidur bayi
  4. Mainan anak
  5. Satu set baju gamis bukaan depan / menyusui
  6. Satu set perlengkapan mandi
  7. Ayunan bayi
  8. Gendongan
  9. Baju hangat
  10. Satu set lengkap pakaian bayi
  11. Dudukan closet anak
  12. Sembako ( gula pasir, mie kering dan teh celup)
  13. Amplop uang

Bagaimana dengan rombongan ibu-ibu komplek, berikut isinya :

  1. Satu set perlengkapan makan
  2. Satu set perlengkapan mandi
  3. Handuk
  4. Detergen bubuk plus satu buah piring cantik
  5. Pewangi pakaian
  6. Nampan plastik motif kembang-kembang

Walaupun beberapa isi kado sempat membuat saya mengeryitkan kening dan geli karena tidak pernah ada dalam bayangan saya sebelumnya, namun ternyata berguna.

Handuk, barang kedua terbanyak setelah detergen

Detergen bubuk dan pewangi bagi saya sangat berguna buat, karena saya selalu mencuci popok  kain hampir setiap hari, apalagi ukuran yang mereka bawa lumayan jumbo, jumlahnya cukup membuat kami tidak belanja detergen hampir setengah tahun.

Bagaimana dengan sembako dan nampan plastik kembang-kembang, cukup bermanfaat lumayan buat stok logistik, apalagi selama melahirkan saya tidak masak. Sedangkan untuk nampannya saya pakai sebagai alas roti dan selai di dapur.

Dudukan closet anak, ini masih saya simpan utuh dalam plastik belum digunakan.

Amplop uang, jenis bingkisan yang satu ini bagi saya sangat praktis dan tidak memakan tempatdiberikan salah satu kawan pak suami ketika kami pulang kampung, katanya bingung mau ngasih hadiah apa, jadi hanya memberikan sebuah amplop yang berisi sejumlah uang, walaupun sempat menolak, karena bagi kami tidak memberipun kami tidak masalah yang penting silahturahminya.

Jadi, apakah ada tetangga, saudara atau kawan yang akan lahiran dekat-dekat ini?

Semoga terinspirasi ya, bagi yang ingin memberikan kado untuk keluarga, sahabat atau tetangga dekat, mahal atau murah yang penting bisa bermanfaat dan ikhlas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *